biografi Abdul Muis
BIografi Pahlawan Nasional – Abdul Muis
Posted by Admin
on March 9, 2012

(1883–1959)
MELAWAN BELANDA DENGAN PENA
Perlawanan terhadap penjajahan Belanda dilakukannya tanpa putus-putus
dengan berbagai cara. Dengan ‘pena’-nya yang tajam, partai politik,
komite perlawanan orang pribumi, bahkan memimpin mogok kerja. Sebagai
seorang wartawan, tulisan Abdul Muis merupakan tulisan perlawanan
terhadap Belanda.
Begitu juga sebagai Pengurus Besar
Sarekat Islam, ia selalu menanamkan semangat perlawanan kepada
anggotanya. Ia juga mendirikan Komite Bumiputera bersama tokoh-tokoh
pergerakan nasional lainnya sebagai perlawanan terhadap rencana
Pemerintah Belanda yang akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke
seratus di Indonesia.
Tokoh yang menjadi utusan ke Negeri
Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar sehubungan dengan
terjadinya Perang Dunia pertama ini, juga merupakan tokoh di belakang
cikal bakal berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB). Pejuang yang
juga terkenal sebagai sastrawan ini, hingga Indonesia merdeka tetap
melakukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan
Persatuan Perjuangan Priangan.
Sebelum terjun menekuni dunia
kewartawanan, pria yang lahir di Sungai Puar, Bukit Tinggi, 3 Juli 1883,
ini sempat menjadi pegawai negeri. Pekerjaan itu ia geluti beberapa
waktu saja setelah memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya di
STOVIA (Sekolah dokter). Namanya mulai dikenal oleh masyarakat ketika
karangannya yang banyak dimuat di harian de Express selalu mengecam
tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia.
Untuk mengefektifkan perjuangannya, ia
selanjutnya terjun berpolitik praktis dengan menjadi anggota Sarekat
Islam. Di organisasi tersebut ia diangkat menjadi salah seorang anggota
Pengurus Besar. Kepada anggota sarekat, ia selalu menanamkan semangat
perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan ketika Kongres Sarekat
Islam diadakan pada tahun 1916, ia menganjurkan agar Sarekat Islam (SI)
bersiap-siap menempuh cara kekerasan menghadapi Belanda jika cara lunak
tidak berhasil.
Perlawanan tidak hanya ditujukannya kepada Pemerintahan kolonial
Belanda, tapi terhadap ajaran-ajaran yang tidak disetujuinya. Seperti
selama kesertaannya di Sarekat Islam, ia selalu berjuang agar diadakan
disiplin partai, yang intinya untuk mengeluarkan anggota-anggota yang
sudah dipengaruhi oleh paham komunis.
Pada tahun 1913, ia bersama tokoh-tokoh
pergerakan nasional lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, mendirikan
Komite Bumiputera. Komite ini dibentuk awalnya adalah untuk menentang
rencana Pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun
bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis. Rencana Pemerintah
Belanda tersebut memang sesuatu yang ironis. Di negeri yang sedang di
jajahnya, mereka hendak merayakan hari kemerdekaannya secara
besar-besaran. Itulah yang ditentang oleh para tokoh pergerakan nasional
tersebut. Namun oleh karena perlawanan itu, ia akhirnya ditangkap oleh
Pemerintah Belanda.
Ketika Perang Dunia I terjadi, bangsa ini pun siap sedia mengatasi
kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Untuk itu, pada
tahun 1917, Abdul Muis diutus ke Negeri Belanda sebagai anggota Komite
Indie Weerbaar guna membicarakan masalah pertahanan bagi bangsa
Indonesia.
Selain itu, ia juga berusaha
mempengaruhi tokoh-tokoh bangsa Belanda agar mendirikan sekolah teknik
di Indonesia. Usahanya tersebut beberapa tahun kemudian membuahkan
hasil. Oleh Belanda didirikanlah Technische Hooge School di Bandung yang
dikemudian hari berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB)
sekarang.
Abdul Muis terkenal sebagai orang yang
selalu membela kepentingan rakyat kecil. Ia sering berkunjung ke
daerah-daerah untuk membela rakyat kecil tersebut sambil membangkitkan
semangat para pemuda agar semakin giat berjuang untuk kemerdekaan bangsa
dan tanah air Indonesia.
Melawan Belanda sepertinya ia tidak
kehabisan ide, berbagai cara perlawanan pernah dilakukannya termasuk
mengajak kaum buruh untuk melakukan mogok. Seperti yang dilakukannya
pada tahun 1922, ia memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta.
Karena tindakannya itu, ia kembali ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan
mengasingkannya ke Garut, Jawa Barat.
Di samping terkenal sebagai pejuang
kemerdekaan, ia juga terkenal sebagai seorang sastrawan Indonesia. Karya
sastra yang berjudul “Salah Asuhan” yang sangat terkenal itu merupakan
salah satu dari karyanya.
Sang Pahlawan Pergerakan Nasional dan
Sastrawan yang hingga kemerdekaan ini tetap tinggal di Jawa Barat
berprinsip bahwa perjuangan tidak pernah berhenti. Setelah kemerdekaan
ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan, suatu persatuan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 17 Juni 1959, pahlawan ini
meninggal di Bandung dan dimakamkan di sana juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar