Biografi
Biografi Proklamator Kemerdekaan RI – Ir. Soekarno
Posted by Admin
on March 9, 2012

(1901-1970)
SANG PUTRA FAJAR
“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju,
berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku.
Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo.
Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan
Sultan Kediri…
Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda
bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun
kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku
bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir. Soekarno
menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.
Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6
Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi
nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno, 44 tahun kemudian, menguak fajar
kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas
oleh penjajah-penjajah asing.
Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di
Blitar sejak duduk di bangku sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai
tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said
Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Jiwa
nasionalismenya membara lantaran sering menguping diskusi-diskusi
politik di rumah induk semangnya yang kemudian menjadi ayah mertuanya
dengan menikahi Siti Oetari (1921).
Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan
pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik
Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei
1926. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain,
menikah dengan Inggit Ganarsih (1923).
Soekarno muda, lebih akrab dipanggil
Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), 4 Juni 1927.
Tujuannya, mendirikan negara Indonesia Merdeka. Akibatnya, Bung Karno
ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman penjara oleh pemerintah Hindia
Belanda. Ia dijeboloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember
1949.
Di dalam pidato pembelaannya yang berjudul, Indonesia Menggugat, Bung Karno berapi-api menelanjangi kebobrokan penjajah Belanda.
Bebas tahun 1931, Bung Karno kemudian
memimpin Partindo. Tahun 1933, Belanda menangkapnya kembali, dibuang ke
Ende, Flores. Dari Ende, dibuang ke Bengkulu selama empat tahun. Di
sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak;
Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan
Guruh Soekarnoputri.
Soekarno adalah seorang cendekiawan yang
meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin
hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah
diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku
setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926),
berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik
untuk memahami gelora muda Bung Karno.
Tahun 1942, tentara pendudukan Belanda
di Indonesia menyerah pada Jepang. Penindasan yang dilakukan tentara
pendudukan selama tiga tahun jauh lebih kejam. Di balik itu, Jepang
sendiri sudah mengimingi kemerdekaan bagi
Indonesia.Penyerahan diri Jepang setelah dua kota utamanya, Nagasaki dan
Hiroshima, dibom atom oleh tentara Sekutu, tanggal 6 Agustus 1945,
membuka cakrawala baru bagi para pejuang Indonesia. Mereka, tidak perlu
menunggu, tetapi merebut kemerdekaan dari Jepang.
Setelah persiapan yang cukup panjang,
dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan
Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar